![]() |
| Foto.ilustrasi.dok. |
Sleman,Cakrainvestigasi.com,- Bunyi gamelan terdengar sedikit berbeda dari Pendopo Kromoredjan Kalurahan Condongcatur, Kamis Pon 3 September 2026 pagi.
Sesekali terdengar pukulan yang belum berirama. Tangan-tangan kecil anak SPS Asparagus II Babadan Baru, Kentungan, sedang mencoba membunyikan gamelan untuk pertama kalinya.
Tak harus langsung pandai menabuh. Bisa mendekat, mengenal namanya, mendengar bunyinya, lalu berani mencoba menjadi pengalaman awal yang berharga untuk menumbuhkan kecintaan anak terhadap warisan budaya.
Mengenakan Pakaian Tradisional Jawa Yogyakarta, anak-anak tampak antusias mengikuti pengenalan seni karawitan bersama Pringgo Budoyo Laras, Pringgolayan, Dabag, Condongcatur.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran di luar kelas SPS Asparagus II sekaligus memanfaatkan momentum Kamis Pon di Kalurahan Condongcatur sebagai ruang perjumpaan generasi usia dini dengan seni dan budaya Jawa.
Anak-anak dikenalkan dengan sejumlah instrumen gamelan, antara lain kenong, gong, kendang, saron, dan bonang. Mereka diajak mendekati perangkat gamelan, melihat cara para pengrawit memainkannya, mengenali bentuk dan karakter bunyinya, hingga mendapat kesempatan mencoba menabuh.
Meski pukulan tangan-tangan kecil itu belum menghasilkan irama yang teratur, bunyi yang muncul justru menghadirkan kegembiraan. Anak-anak terlihat penasaran dan bersemangat ketika memperoleh pengalaman langsung memainkan alat musik tradisional.
Suasana semakin hidup ketika salah seorang sinden Pringgo Budoyo Laras, Susiana, mengajak anak-anak nembang bersama. Lagu dan tembang yang akrab dengan dunia anak seperti “Gundul-Gundul Pacul”, “Suwe Ora Jamu”, dan “Perahu Layar” dinyanyikan bersama dengan iringan gamelan.
Pendopo Kromoredjan pun berubah menjadi ruang belajar budaya yang menyenangkan. Anak-anak tidak dituntut memahami teori karawitan. Mereka terlebih dahulu diajak mendengar, mencoba, bernyanyi, dan bergembira bersama budaya yang tumbuh di lingkungan mereka sendiri.
Kepala SPS Asparagus II, Muflichah, S.E., mengatakan pengenalan budaya secara langsung merupakan bagian dari upaya lembaganya menanamkan kecintaan terhadap budaya sejak usia dini.
“Kami ingin menanamkan cinta membaca dan cinta budaya kepada anak-anak sejak usia dini. Anak tidak hanya dikenalkan melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga diberikan kesempatan untuk melihat, mengenal, dan mengalami secara langsung,” ujar Muflichah.
Upaya tersebut bukan kegiatan sesaat. Muatan literasi dan budaya Jawa telah menjadi bagian dari pembelajaran SPS Asparagus II sejak lembaga tersebut berdiri 16 tahun lalu, salah satunya melalui program “Selasa Budaya”.
Melalui program tersebut, anak-anak dikenalkan dengan berbagai unsur budaya Jawa, mulai dari alat musik tradisional, pakaian adat, makanan tradisional, tarian dan lagu Jawa hingga pengenalan serta pembiasaan berbahasa Jawa.
Nilai-nilai kesopanan, keramahan, kebersamaan, dan gotong royong juga ditanamkan sebagai bagian dari pembentukan karakter anak.
Semangat tersebut sejalan dengan visi SPS Asparagus II yang pada Agustus 2026 memperingati Milad ke-16, yakni “membentuk generasi yang berakhlak, cerdas, kreatif, sehat, ceria, dan berbudaya"
Di balik alunan gamelan yang dinikmati anak-anak pagi itu terdapat konsistensi warga dalam menjaga keberlangsungan seni tradisional.
Ketua Pringgo Budoyo Laras Pringgolayan, Teguh Prayitno, menjelaskan kelompok karawitan tersebut berdiri sejak November 2019 dan kini memiliki sekitar 25 anggota, termasuk empat sinden.
Untuk menjaga kemampuan dan kekompakan, kelompok tersebut rutin berlatih setiap malam Minggu di Bale RW Pringgolayan, Dabag.
Pringgo Budoyo Laras juga mendapat giliran bersama kelompok-kelompok karawitan lainnya untuk mengisi kegiatan karawitan Kamis Pon di Kalurahan Condongcatur.
Keberadaan kelompok karawitan berbasis kampung tersebut menunjukkan bahwa upaya menjaga budaya dapat tumbuh dan terus hidup dari komunitas warga. Ketika ruang tersebut kemudian dipertemukan dengan anak-anak PAUD, karawitan memperoleh fungsi yang lebih luas: tidak hanya sebagai seni pertunjukan, tetapi juga menjadi media pengenalan dan pewarisan budaya kepada generasi berikutnya.
Harapan terhadap lahirnya generasi penerus juga disampaikan Sekretaris Pringgo Budoyo Laras, Sanusi, yang dalam karawitan bertugas sebagai pempul atau penabuh gong.
"Semoga ke depan semakin banyak generasi muda yang mencintai seni karawitan untuk nguri-uri kebudayaan,” harap Sanusi.
Harapan tersebut memiliki arti penting di tengah perkembangan Condongcatur sebagai kawasan urban yang dinamis. Pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan merawat seperangkat gamelan atau mempertahankan keberadaan kelompok karawitan. Budaya membutuhkan ruang perjumpaan dan generasi baru yang bersedia mengenal, mencintai, serta meneruskannya.
Kegiatan Kamis Pon menjadi salah satu ruang yang mempertemukan keduanya: para pelaku seni yang menjaga tradisi dengan anak-anak yang kelak menjadi pewarisnya.
Regenerasi budaya tidak harus menunggu seorang anak cukup usia untuk menjadi pengrawit atau sinden. Benih kecintaan dapat ditanam jauh lebih awal—ketika mereka pertama kali mendengar suara kenong, mencoba memukul gong, melihat kendang dimainkan, atau dengan riang mengikuti tembang bersama sinden.
Pagi itu, tangan-tangan kecil tersebut memang belum mampu memainkan sebuah gending. Pukulan gamelannya pun belum semuanya berirama. Namun, ketika alunan gamelan berpadu dengan suara anak-anak menyanyikan “Gundul-Gundul Pacul”, sebuah proses penting sedang berlangsung: budaya sedang diperkenalkan kepada calon pewarisnya.
Kebersamaan pagi itu diakhiri dengan suasana hangat. Sebelum meninggalkan Pendopo Kromoredjan, anak-anak berpamitan dan bersalaman satu per satu dengan para pengrawit dan sinden Pringgo Budoyo Laras. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama sebagai kenang-kenangan atas perjumpaan dua generasi dalam satu ruang budaya.
Salaman kecil sebelum pulang itu sekaligus melengkapi pembelajaran hari tersebut. Anak-anak tidak hanya belajar mengenai gamelan dan tembang Jawa, tetapi juga belajar unggah-ungguh, menghormati orang yang lebih tua, serta menghargai para pelaku seni yang menjaga warisan budaya.
Sebab nguri-uri kabudayan bukan sekadar menjaga apa yang diwariskan masa lalu. Ia juga berarti menumbuhkan rasa cinta, penghormatan, dan kebanggaan kepada generasi berikutnya.
Dan pada Kamis Pon itu, proses tersebut dimulai dengan cara yang sederhana: tangan-tangan kecil mencoba menabuh gamelan, suara anak-anak melantunkan tembang, lalu sebuah salaman hangat menutup perjumpaan dengan generasi yang selama ini menjaga budaya tetap hidup.
( WAN).

Social Header
Berita