![]() |
| Foto.pengurus DPP GBN-MI usai Pelantikan.dok |
YOGYAKARTA,Cakrainvestigasi.com,- Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Gerakan Bela Negara Membangun Indonesia (GBN MI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Kader Belanegara Kementerian Pertahanan resmi dilantik bersama pengukuhan Ketua Dewan Pimpinan Kabupaten/Kota (DPK) se-DIY. Pelantikan berlangsung di Balai Latihan Pendidikan Teknik (BLPT) DIY, Sabtu (5/9/2026).
Ketua DPP GBN MI DIY, Y. Heru Wintoko, menegaskan kepengurusan baru harus mampu menjadikan organisasi sebagai wadah pengabdian dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Heru mengingatkan agar GBN MI tidak berhenti sebagai organisasi yang hanya menjalankan kegiatan seremonial atau menjadi tempat berkumpul para kader.
"Jangan jadikan organisasi ini hanya sebagai tempat berkumpul, tetapi jadikan GBN MI sebagai wadah untuk berbuat, mengabdi, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," tegas Heru.
Menurutnya, pengurus dan kader GBN MI DIY perlu memperkuat soliditas organisasi, mempererat silaturahmi, serta membangun sinergi dengan berbagai pihak.
Ia berharap program kerja yang dijalankan ke depan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat sehingga keberadaan GBN MI semakin dirasakan dan dipercaya.
Pelantikan Bukan Sekadar Seremoni
Ketua Dewan Pembina Dewan Pimpinan Nasional (DPN) GBN MI, Laksamana TNI (Purn) Sumardjono, menegaskan pelantikan tersebut bukan sekadar seremoni. Menurutnya, jabatan yang diberikan kepada pengurus merupakan amanah sekaligus tanggung jawab.
"Pelantikan ini adalah awal dari sebuah amanah. Jabatan yang diberikan bukanlah sekadar kedudukan, melainkan tanggung jawab untuk bekerja, mengabdi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara," ujar Sumardjono.
Ia meminta seluruh pengurus menjadikan jabatan sebagai ladang pengabdian, bukan sekadar kebanggaan.
Menurutnya, setelah dilantik, masyarakat harus dapat melihat keberadaan GBN MI melalui berbagai karya dan kegiatan yang memberikan manfaat.
Bela Negara Bukan Hanya Urusan Pertahanan
Sumardjono juga menekankan bahwa bela negara memiliki makna yang luas. Bela negara, kata dia, bukan hanya menjadi tugas aparat pertahanan dan keamanan, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.
"Seorang pengusaha membela negara dengan menciptakan lapangan pekerjaan, seorang guru membela negara dengan mendidik generasi bangsa," ungkapnya.
Di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI), tantangan bela negara juga semakin kompleks. Mulai dari disrupsi informasi, berita bohong, polarisasi sosial, hingga ancaman narkoba dan perjudian.
Karena itu, menurut Sumardjono, generasi muda harus dibekali kemampuan teknologi sekaligus karakter, etika, nasionalisme, dan rasa tanggung jawab.
"Kita harus melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga memiliki karakter, etika, nasionalisme, dan tanggung jawab," tegasnya.
Ia mengingatkan agar teknologi tidak justru dimanfaatkan untuk memecah persatuan dan kesatuan bangsa.
![]() |
| Foto.pemberian materi dari Kementrian pertahanan RI.dok. |
Sultan: Bela Negara Harus Hadir dalam Kehidupan Masyarakat
Sementara itu, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menilai makna bela negara di era keterbukaan telah berkembang. Bela negara tidak semata-mata dimaknai sebagai menjaga batas wilayah secara fisik, tetapi juga menjaga kualitas kehidupan kebangsaan.
Sambutan Sultan tersebut dibacakan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIY, Lilik Andi Aryanto.
Menurut Sultan, kemajuan teknologi dan keterbukaan ruang interaksi belum tentu otomatis memperkuat kepedulian sosial. Sebaliknya, kondisi tersebut juga dapat memicu polarisasi dan saling curiga di tengah masyarakat.
Karena itu, semangat bela negara perlu diwujudkan melalui upaya menjaga kepercayaan sosial, kepedulian terhadap sesama, serta mengutamakan kepentingan bersama.
Organisasi kemasyarakatan seperti GBN MI, lanjut Sultan, memiliki ruang pengabdian yang luas, antara lain memperkuat ketahanan sosial, menghidupkan semangat gotong royong, menjaga lingkungan, serta mendorong partisipasi masyarakat.
Sultan berharap GBN MI DIY dapat menjadi bagian dari kekuatan masyarakat sipil yang konstruktif dan mampu menjadi mitra dalam menjembatani nilai-nilai kebangsaan dengan kebutuhan nyata masyarakat.
"Semoga GBN MI DIY dapat terus menjadi organisasi yang sehat, terbuka, dan mampu menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat," harapnya.
Pengurus Baru Siap Bergerak
Usai pelantikan, jajaran pengurus GBN MI DIY dan DPK kabupaten/kota diminta segera bergerak menjalankan program kerja.
Ketua DPK GBN MI Kota Yogyakarta, M Raka Yudistira, mengatakan pihaknya akan segera menyusun sejumlah program, salah satunya pengkaderan bela negara bagi kalangan pemuda.
"Segera akan kami rencanakan pelaksanaan pengkaderan bela negara kepada pemuda di Kota Yogyakarta, supaya para pemuda sadar akan bela negara," katanya.
Program tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat kesadaran bela negara di kalangan generasi muda sekaligus memperluas kiprah GBN MI di tengah masyarakat.
Dengan dilantiknya kepengurusan baru, GBN MI DIY diharapkan tidak berhenti pada seremoni organisasi. Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa semangat bela negara dapat diwujudkan melalui kerja nyata, pengabdian, dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
( Pay/red).


Social Header
Berita