![]() |
| Ilustrasi.cakrainbestigasi.com |
YOGYAKARTA, Cakrainvestigasi.com — Aktivitas pengangkutan material uruk untuk proyek pembangunan Jalan Tol Yogyakarta–Solo diduga meninggalkan persoalan serius bagi masyarakat. Akses jalan di wilayah Watugajah kini mengalami kerusakan parah dan menyisakan kepedihan mendalam bagi para pengguna jalan, meski aktivitas pertambangan disebut telah berhenti.
Hasil pantauan di lapangan menunjukkan kondisi jalan yang sebelumnya halus dan nyaman kini berubah drastis. Permukaan aspal rusak, berlubang, serta dipenuhi batu-batu tajam yang bermunculan hampir di seluruh badan jalan. Kerusakan ini diduga kuat disebabkan oleh intensitas lalu lalang truk pengangkut material uruk bertonase berat dari aktivitas tambang pendukung proyek tol.
Kerusakan jalan tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga membahayakan keselamatan pengguna jalan. Sejumlah pengendara sepeda motor mengaku harus ekstra waspada saat melintas, terutama pada malam hari dan saat hujan. Batu tajam yang berserakan kerap menyebabkan kendaraan selip hingga pecah ban.
“Dulu jalannya bagus, sekarang seperti jalur off-road. Banyak batu tajam, rawan kecelakaan,” ungkap salah satu warga Watugajah yang setiap hari melintasi jalan tersebut.
Warga menuturkan, meskipun saat ini aktivitas pertambangan uruk sudah tidak berlangsung, namun dampak kerusakan yang ditinggalkan masih sangat dirasakan. Luka dan derita akibat rusaknya akses jalan dinilai belum mendapat penanganan yang layak.
Lurah Watugajah, Hariyanto, menyampaikan harapannya agar permasalahan ini segera mendapatkan perhatian serius dari pihak terkait. Ia menegaskan bahwa masyarakat membutuhkan solusi nyata, bukan sekadar janji.
“Kami berharap ada tanggung jawab yang jelas. Jalan ini merupakan akses vital warga. Walaupun kegiatan tambang sudah berhenti, dampak kerusakannya masih dirasakan sampai sekarang. Kami meminta ada perbaikan permanen demi keselamatan masyarakat,” tegas Hariyanto, saat di konfirmasi Jumat ( 9/1/2026).
Baca juga : Patra Padi Gelar Haul ke-171 BPH Diponegoro di Tegalrejo Yogyakarta |
Hingga berita ini diturunkan, belum terlihat adanya penanganan serius atau perbaikan menyeluruh dari pihak pengelola tambang uruk maupun pelaksana proyek tol. Warga menilai kerusakan tersebut merupakan dampak langsung dari proyek berskala besar yang seharusnya dibarengi dengan tanggung jawab terhadap infrastruktur umum.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera melakukan evaluasi, penertiban aktivitas angkutan bertonase berat, serta meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang diuntungkan dari proyek tersebut. Tanpa langkah tegas, dikhawatirkan kerusakan jalan akan terus berlanjut dan berpotensi memicu kecelakaan.
Pembangunan infrastruktur nasional sejatinya bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Namun apabila dalam prosesnya justru meninggalkan luka bagi masyarakat sekitar, maka pengawasan dan penegakan aturan menjadi hal yang tidak bisa ditawar. ( Pay ).

Social Header
Berita