![]() |
| Nyadran Agung 2026 Kulonprogo./foto.dok.dinbud/ |
KULON PROGO,Cakrainvestigasi.com – Ratusan warga memadati kawasan depan Rumah Dinas Bupati dan Alun-Alun Wates pada Kamis (12/2/2026) untuk mengikuti upacara adat Nyadran Agung 2026. Tradisi tahunan yang digelar menjelang bulan suci Ramadhan ini tidak hanya menjadi ritual penghormatan kepada leluhur, tetapi juga menjadi ruang hangat mempererat silaturahmi antara pemerintah, masyarakat lokal, dan warga perantauan.
Kegiatan diawali dengan kirab budaya yang meriah. Deretan gunungan hasil bumi diarak dari halaman Pemda Kulon Progo menuju Alun-Alun Wates sebagai simbol kemakmuran dan rasa syukur masyarakat Kulon Progo.
Hadir dalam acara tersebut Bupati dan Wakil Bupati Kulon Progo, jajaran Forkopimda, pimpinan OPD, BUMD, perwakilan 12 kapanewon, serta warga perantauan yang tergabung dalam Paguyuban BakorPKP dari berbagai kota, termasuk wilayah Jabodetabek.
Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, dalam sambutannya menegaskan bahwa Nyadran Agung bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sarana mempererat tali persaudaraan.
“Kegiatan ini adalah wujud syukur kita kepada Allah SWT. Kehadiran para warga perantauan menunjukkan bahwa mereka tetap memiliki rasa handarbeni atau rasa memiliki dan cinta terhadap tanah kelahirannya di Kulon Progo,” ujarnya.
Ia menjelaskan, istilah Nyadran berasal dari kata Sraddha yang bermakna penghormatan kepada leluhur. Namun secara sosial, Nyadran Agung memiliki dimensi yang lebih luas, yakni menghapus sekat-sekat sosial melalui doa bersama dan kebersamaan lintas elemen masyarakat.
Baca juga : Sinergi Kodim 0730/GK dan Forkopimda,Hijaukan Pantai Sepanjang Melalui Gotong Royong dan Tanam Pandan Laut |
Tema besar Nyadran Agung tahun ini adalah Ketahanan Pangan. Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kulon Progo, Joko Mursito, menyampaikan bahwa tema tersebut tercermin dari isi gunungan yang dikirab oleh Pemerintah Kabupaten, 12 kapanewon, BUMD, serta sejumlah OPD.
“Gunungan yang diarak berisi hasil bumi sebagai simbol kemandirian dan ketahanan pangan masyarakat Kulon Progo,” jelasnya.
Selain kirab gunungan, rangkaian kegiatan juga meliputi kenduri bersama, doa lintas agama, serta grebeg gunungan yang disambut antusias masyarakat. Acara semakin semarak dengan penampilan Bregada MAD yang menambah nuansa budaya Jawa kental dalam perhelatan tersebut.
Salah satu peserta dari Kapanewon Temon, Angga, mengungkapkan bahwa Nyadran Agung bukan sekadar rutinitas tahunan.
“Ini bentuk penghormatan terhadap akar budaya yang telah diwariskan turun-temurun. Tradisi ini membuat kami semakin bangga menjadi bagian dari Kulon Progo,” tuturnya.
Nyadran Agung merupakan tradisi tahunan di Kulon Progo yang digelar setiap bulan Ruwah atau Sya’ban sebagai rangkaian menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam pelestarian budaya Jawa sekaligus sarana pemersatu masyarakat.
Dengan memadukan nilai tradisi dan pesan fungsional seperti ketahanan pangan, Nyadran Agung 2026 menjadi jembatan antara pelestarian warisan leluhur dan kesiapan menghadapi tantangan masa depan.
( Pay )


Social Header
Berita