![]() |
Jalan Kalasan–Cangkringan Rusak./foto.dok.red/ |
SLEMAN, Cakrainvestigasi.com – Kerusakan Jalan Kalasan–Cangkringan kembali menuai sorotan warga. Selain dipenuhi lubang dan retakan di berbagai titik, sebagian masyarakat juga mengeluhkan dampak lanjutan yang diduga berkaitan dengan aktivitas proyek pembangunan Jalan Tol Solo–Yogyakarta–YIA.
Sejumlah warga menilai proyek strategis tersebut terkesan lebih berfokus pada percepatan pembangunan jalan tol, sementara dampak terhadap infrastruktur dan lingkungan sekitar belum tertangani secara optimal.
Salah seorang warga yang rumahnya berada tak jauh dari jalur aktivitas kendaraan proyek mengaku merasakan langsung perubahan kondisi lingkungan sejak proyek berjalan.
“Sejak ada proyek tol, rumah saya seperti ‘neraka’ debu dan kebisingan. Debunya sangat tebal, hampir setiap hari harus bersih-bersih,” ujarnya kepada wartawan, Senin ( 2/3).
Ia menuturkan, selain kebisingan kendaraan berat, debu yang beterbangan juga berdampak pada pengeluaran rutin rumah tangga. Untuk menjaga kebersihan kendaraan, dirinya mengaku harus mengeluarkan biaya tambahan.
“Minimal setiap bulan saya harus mengeluarkan sekitar Rp70 ribu untuk mencuci mobil dan motor. Kalau tidak dicuci, debunya sangat tebal dan menempel di mana-mana,” katanya.
Sorotan Soal Kompensasi
Warga tersebut juga mempertanyakan mekanisme kompensasi bagi masyarakat yang terdampak langsung proyek. Ia mengaku tidak ingin memperpanjang polemik soal kompensasi, namun berharap ada perhatian terhadap warga sekitar.
“Saya dengar dari cerita beberapa pekerja, di proyek sebelumnya ada kompensasi bagi warga yang terdampak langsung. Tapi di lingkungan saya, sampai sekarang belum ada,” ungkapnya.
Menurutnya, yang lebih penting dari sekadar kompensasi adalah adanya tanggung jawab sosial dan perhatian terhadap dampak lingkungan, termasuk debu, kebisingan, dan kerusakan akses jalan.
Infrastruktur dan Tanggung Jawab
Sebagaimana diketahui, ruas Kalasan–Cangkringan berada di wilayah administratif Sleman. Secara kewenangan, pemeliharaan jalan tersebut berada di pemerintah kabupaten. Namun jika kerusakan dan dampak lingkungan terbukti berkaitan langsung dengan aktivitas proyek tol, masyarakat berharap ada koordinasi dan tanggung jawab bersama antara pemerintah daerah dan pihak pelaksana proyek.
Warga meminta adanya langkah konkret berupa:
Perbaikan menyeluruh ruas Jalan Kalasan–Cangkringan.
Pengendalian debu dan kebisingan di sekitar permukiman.
Transparansi terkait skema kompensasi bagi warga terdampak langsung.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pelaksana proyek maupun instansi terkait mengenai tanggapan atas keluhan warga tersebut.
Tim redaksi masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait guna memperoleh penjelasan berimbang dan memastikan kejelasan langkah penanganan ke depan.
( Red )

Social Header
Berita