![]() |
| Foto.penflet acara bertepatan may day.dok. |
YOGYAKARTA,Cakrainvestigasi.com — Penyelenggaraan acara budaya di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional, 1 Mei, menuai kritik tajam. Sejumlah kalangan menilai agenda tersebut bukan sekadar perayaan seni, melainkan diduga menjadi strategi untuk mengalihkan konsentrasi aksi buruh.
Acara yang menampilkan pertunjukan seni tradisional, musik, dan aktivitas komunitas itu digelar hampir bersamaan dengan momentum May Day—hari yang selama ini identik dengan aksi demonstrasi pekerja.
Ketua Umum Forum Komunikasi Perjuangan Rakyat Nusantara Ksatria Garuda Nusantara (FKPRN KGN), Krisna Triwanto, SH, menilai pemilihan lokasi di Titik Nol bukan keputusan yang netral.
“Titik Nol itu ruang simbolik dan strategis bagi massa aksi. Ketika diisi agenda lain pada waktu yang sama, publik berhak mempertanyakan motifnya,” ujarnya.
Kecurigaan serupa disampaikan aktivis buruh di Yogyakarta yang enggan disebutkan namanya. Ia menilai kegiatan tersebut berpotensi memecah konsentrasi massa dan melemahkan daya tekan aksi.
“Ini bukan sekadar acara budaya. Ada potensi pembatasan ruang gerak demonstran, baik secara fisik maupun simbolik,” katanya saat menyampaikan kepada cakrainvestigasi.com.minggu ( 3/5).
Sorotan juga mengarah pada pengamanan di sekitar lokasi yang disebut lebih ketat dibanding hari biasa. Sejumlah pihak menduga pendekatan yang digunakan bukan pelarangan terbuka, melainkan pengalihan fungsi ruang publik secara halus.
Seorang pengamat politik dari salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta menyebut pola ini sebagai bentuk “soft control”.
“Alih-alih membubarkan aksi secara represif, negara bisa menggunakan kegiatan alternatif untuk mendilusi konsentrasi massa,” ujarnya.
Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya disepakati. Sejumlah pelaku seni menolak anggapan bahwa acara budaya sarat kepentingan politik. Mereka menilai ruang publik semestinya dapat digunakan secara bersamaan oleh berbagai kelompok.
Di sisi lain, pemerintah daerah menyatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya merawat ruang publik sekaligus mempromosikan kebudayaan lokal.
Perdebatan ini menegaskan tarik-menarik antara kebebasan berekspresi dan kontrol atas ruang publik. Di tengah meningkatnya kesadaran politik masyarakat, kebijakan yang tampak netral pun kini tak luput dari kecurigaan.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi yang secara langsung mengaitkan acara budaya tersebut dengan upaya meredam aksi buruh. Namun, waktu dan lokasi pelaksanaan yang beririsan dengan May Day membuat polemik ini terus bergulir.
( Pay )

Social Header
Berita