![]() |
| Foto.Bupati Aru saat memimpin Upacara Hari Lahir Pancasila.dok.hms |
KEPULAUAN ARU,Cakrainvestigasi.com - Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel pimpin upacara peringatan Hari Lahir Pancasila yang Ke-81 Tahun 2026, di Lapangan upacara Kantor Bupati Jln. Pemda Kelurahan Siwalima Kecamatan Pulau-pulau Aru, Senin(1/6).
Upacara dengan mengusung Tema : "Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia". Diikuti Wabup Mohamad Jumpa, Forkopimda, dan pimpinan OPD serta sejumlah pegawai Pemkab Aru.
Dalam Amanatnya, Bupati Timotius Kaidel mengatakan, tema yang diusung dalam peringatan hari lahir Pancasila tahun 2026 adalah “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia", Sebuah pernyataan tegas bahwa nilai-nilai luhur pancasila tidak hanya relevan untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia, namun demikian juga menjadi jawaban terciptanya perdamaian dunia yang abadi.
Pancasila adalah “Bintang Penuntun" yang telah membuktikan ketangguhannya. di tengah dunia yang diwarnai ketidakpastian dan ancaman fragmentasi, Indonesia tetap berdiri kokoh sebagai contoh nyata bagaimana keberagaman yang terdiri atas lebih dari tujuh belas ribu pulau dan ratusan etnik dapat disatukan dalam satu ikatan kebangsaan.
Pancasila adalah "Jangkar Moral" kita dalam menghadapi turbulensi global, mulai dari disrupsi teknologi hingga dinamika geopolitik.
"Indonesia bukan hanya penonton dalam kancah dunia. sesuai amanat pembukaan undang-undang dasar negara Republik Indonesia Tahun 1945, kita memiliki tanggung jawab konstitusional untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial" tandas Kaidel
Pancasila tambah Kaidel adalah fondasi dari kebijakan luar negeri kita yang bebas aktif. nilai musyawarah dan mufakat yang kita anut adalah instrumen diplomasi yang sangat dibutuhkan dunia saat ini untuk menjembatani perbedaan dan menghentikan konflik.
"Sebagai bangsa yang besar, kita terus menunjukkan kepemimpinan nyata kontribusi pasukan perdamaian Imdonesia di bawah bendera perserikatan bangsa bangsa (PBB), peran kita dalam mediasi konflik regional, serta konsistensi kita dalam menyuarakan keadilan bagi bamgsa-bangsa terjajah adalah pengejawantahan dari sila Kedua: kemanusiaan yang adil dan beradab. kita ingin dunia melihat bahwa perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan hadirnya keadilan bagi seluruh umat manusia" Tandasnya lagi.
Dikatakan pula bahwa, Indonesia raya bukanlah mimpi kosong. namun, kemajuan ekonomi dan teknologi tanpa arah moral bisa menyesatkan.
"Oleh karena itu, saya mengajak seluruh elemen bangsa, terutama generasi muda sebagai penjaga masa depan, untuk menjadikan pancasila sebagai ideologi (Living Ideology). jangan biarkan nilai-nilai luhur ini hanya menjadi hiasan di dinding kantor atau teks di buku sejarah," Ajak Kaidel.
Pewarta : Nus Yerusa

Social Header
Berita