Berita

Breaking News

Ratusan Mahasiswa Turun ke Jalan,Beri Rapor Merah Untuk Prabowo-Gibran

Foto.aksi mahasiswa di titik nol Yogyakarta.dok.


YOGYAKARTA,Cakrainvestigasi.com – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi UMY Bergerak, BEM Nusantara, APMD, dan UIN Sunan Kalijaga menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Rabu (17/6/2026). Dalam aksi tersebut, massa menyuarakan kritik terhadap kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang dinilai belum mampu menjawab berbagai persoalan rakyat.

Para demonstran secara simbolis memberikan “rapor merah” kepada pemerintah. Mereka menilai sejumlah kebijakan nasional justru memperburuk kondisi sosial, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.

Aksi yang berlangsung sejak siang hari itu diwarnai dengan orasi, pembentangan spanduk, serta poster berisi kritik terhadap berbagai program pemerintah. Massa juga menyampaikan delapan tuntutan utama yang dianggap mewakili persoalan mendasar bangsa saat ini.

Perwakilan UIN Suka Melawan, Dias Habibi, dalam orasinya menyoroti pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai menyerap anggaran negara dalam jumlah besar tanpa kajian yang memadai.

“Ketika pemerintah ingin menerapkan kebijakan intervensi perbaikan gizi anak-anak, seharusnya dilakukan uji coba terlebih dahulu secara terbatas sebelum diterapkan secara nasional,” ujar Dias.

Menurutnya, efektivitas program tersebut perlu dibuktikan melalui evaluasi yang komprehensif, termasuk dampaknya terhadap peningkatan kemampuan akademik dan konsentrasi belajar siswa.

“Apakah program makan bergizi gratis ini benar-benar mampu meningkatkan kapasitas akademik dan fokus belajar siswa atau tidak, itu yang harus dibuktikan,” katanya.

Selain mengkritisi MBG, Dias juga menyoroti tata kelola Badan Gizi Nasional yang dinilai perlu diperkuat dari sisi pengawasan dan transparansi.

“Jangan hanya menyalahkan oknum. Ketika penyimpangan terjadi, itu menunjukkan adanya sistem yang memungkinkan hal tersebut berlangsung. Karena itu, yang harus diperbaiki adalah sistemnya,” tegasnya.

Dias menilai reformasi kelembagaan menjadi langkah penting untuk mencegah terulangnya persoalan serupa di masa mendatang.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan adanya potensi upaya memecah belah gerakan mahasiswa melalui polarisasi maupun konflik horizontal yang dapat melemahkan perjuangan bersama.

Namun demikian, kehadiran mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta dalam aksi tersebut disebut sebagai bukti bahwa solidaritas gerakan mahasiswa masih terjaga.

“Kehadiran kawan-kawan hari ini menunjukkan bahwa mahasiswa tetap mampu bersatu memperjuangkan kepentingan rakyat tanpa terpecah oleh berbagai kepentingan,” ujarnya.

Menjelang akhir aksi, Dias mengajak mahasiswa untuk tetap menjaga independensi dan tidak mudah tergoda oleh berbagai tawaran kekuasaan maupun intimidasi.

“Kami berharap mahasiswa tidak mudah tergiur tawaran-tawaran kekuasaan dan tidak goyah menghadapi ancaman intimidasi,” katanya yang disambut sorak peserta aksi.

Ia menutup orasinya dengan pernyataan tegas.

“Jangan sampai muncul pengkhianat reformasi jilid dua,” tandasnya.

Aksi demonstrasi berlangsung tertib hingga sore hari dengan pengawalan aparat keamanan.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan delapan tuntutan utama, yakni menghentikan keterlibatan Indonesia dalam kebijakan yang dinilai tidak sejalan dengan prinsip kemanusiaan dan kepentingan rakyat, mengevaluasi program-program yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat seperti MBG, Koperasi Merah Putih, dan Proyek Strategis Nasional (PSN) bermasalah, menurunkan harga BBM dan kebutuhan pokok, menolak penempatan perwira TNI/Polri aktif maupun purnawirawan di jabatan sipil strategis, menghentikan kriminalisasi terhadap aktivis dan masyarakat sipil, mewujudkan reforma agraria sejati, menyediakan pendidikan dan kesehatan yang lebih terjangkau, serta mendesak Presiden dan Wakil Presiden bertanggung jawab atas kebijakan yang dinilai merugikan rakyat.

(*)

© Copyright 2024 - CAKRAINVESTIGASI.COM