![]() |
| Foto.toilet terminal.dok. |
PURWOREJO, Cakrainvestigasi.com - Di saat ribuan warga memanfaatkan layanan transportasi umum pada akhir pekan, fasilitas toilet di area kedatangan Bus Trans Jateng Terminal Tipe B Kutoarjo
Kabupaten Purworejo Jawa Tengah, justru tidak dapat digunakan. Toilet yang dibangun dan disediakan melalui anggaran negara untuk melayani kebutuhan dasar masyarakat itu ditemukan dalam kondisi tertutup pada Sabtu (20/6/2026).
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan serius mengenai pengawasan dan tanggung jawab pengelolaan fasilitas publik yang seharusnya tersedia bagi masyarakat setiap saat selama terminal beroperasi.
Sejumlah penumpang mengaku kecewa karena tidak dapat menggunakan toilet saat membutuhkan. Padahal aktivitas kedatangan dan keberangkatan bus tetap berjalan normal.
Keluhan juga datang dari para pedagang kios yang setiap hari beraktivitas di lingkungan terminal. Mereka mengungkapkan penutupan toilet bukan hanya terjadi sekali, melainkan disebut sudah berulang kali terjadi, bahkan saat aktivitas terminal masih berlangsung.
“Kalau memang ada alasan tertentu untuk tutup sehari mungkin bisa dipahami. Tapi yang kami alami, toilet sering tutup pada jam-jam tertentu padahal penumpang masih ramai,” ujar seorang pedagang.
Selain persoalan penutupan, sejumlah pengguna jasa terminal juga mengeluhkan ketersediaan air yang disebut kerap bermasalah. Akibatnya, fungsi toilet sebagai fasilitas dasar pelayanan publik dinilai tidak berjalan maksimal.
Ironisnya, di area toilet terpampang tarif penggunaan Rp2.000 dan tarif mandi Rp5.000. Kondisi ini memunculkan pertanyaan dari masyarakat mengenai standar pelayanan yang seharusnya diberikan kepada pengguna jasa yang telah membayar untuk menggunakan fasilitas tersebut.
Saat dikonfirmasi, pihak Dinas Perhubungan menyatakan bahwa pengelolaan toilet telah diserahkan kepada pihak ketiga. Penutupan pada Sabtu (20/6/2026) disebut karena pengelola meminta izin tidak beroperasi selama satu hari.
Namun penjelasan tersebut belum menjawab keluhan sejumlah pedagang dan pengguna jasa terminal yang mengaku persoalan penutupan toilet maupun ketersediaan air bukan pertama kali terjadi.
Fakta adanya perbedaan keterangan antara pengelola dengan pengguna jasa terminal menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan fasilitas publik di Terminal Tipe B Kutoarjo. Sebab, toilet bukan sekadar bangunan pelengkap, melainkan bagian dari pelayanan dasar yang menjadi hak masyarakat.
Sebagai fasilitas yang keberadaannya didukung oleh anggaran negara, masyarakat menilai pengelolaan toilet semestinya tidak hanya berorientasi pada pemungutan tarif, tetapi juga menjamin ketersediaan layanan secara konsisten. Ketika fasilitas publik yang dibiayai uang rakyat tidak dapat diakses saat dibutuhkan, maka yang dipertanyakan bukan hanya alasan penutupan, melainkan juga efektivitas pengawasan dari pihak yang bertanggung jawab.
Masyarakat kini menunggu langkah konkret dari pihak terkait agar kejadian serupa tidak terus berulang. Sebab pelayanan publik yang baik tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas menggunakan anggaran negara, tetapi juga memastikan fasilitas tersebut benar-benar berfungsi dan dapat digunakan masyarakat setiap waktu.
( Horas ).

Social Header
Berita