![]() |
| Foto.Wabup Danang Hadiri Kirab Adat Suran Mbah Demang Banyuraden.dok.hms. |
SLEMAN,Cakrainvestigasi.com – Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menghadiri sekaligus mengikuti langsung prosesi budaya Upacara Adat Suran Mbah Demang yang berpusat di halaman Kantor Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Sleman, Selasa (23/6) malam. Kehadiran Wakil Bupati ini menjadi wujud nyata komitmen pemerintah daerah dalam merawat kearifan lokal yang sarat nilai sejarah.
Upacara adat yang rutin digelar setiap memasuki bulan Sura dalam penanggalan Jawa ini merupakan bentuk penghormatan serta refleksi atas perjuangan leluhur, Ki Demang Cokrodikromo. Tokoh tersebut dikenal memiliki kontribusi besar dalam sejarah spiritual dan sosial kemasyarakatan di wilayah Banyuraden.
Rangkaian acara malam itu dimeriahkan oleh Kirab Budaya yang mengular di sepanjang jalan. Defile kirab menampilkan barisan Bregada Keprajuritan tradisional, berbagai atraksi kesenian rakyat, gunungan hasil bumi, hingga arak-arakan ogoh-ogoh. Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa turut membaur bersama warga dengan berjalan kaki mengikuti rute kirab menuju Sumur Petilasan Mbah Demang.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menyampaikan bahwa Upacara Adat Suran Mbah Demang bukan sekadar tradisi tahunan. Menurutnya, tradisi ini memiliki nilai spiritual, sosial, dan budaya yang luhur sebagai warisan yang wajib dijaga bersama.
"Selain sebagai sarana hiburan, acara ini terbukti ampuh mempererat tali silaturahmi sekaligus memantik rasa kepemilikan (handarbeni) generasi muda terhadap budaya Jawa dan lingkungan sekitar. Salah satunya adalah komitmen menjaga kelestarian Sumur Petilasan Mbah Demang agar terus mengalirkan air bagi kemaslahatan warga," katanya.
Lebih lanjut, melalui momentum ini, masyarakat diajak untuk meneladani sifat welas asih dan keluhuran budi Ki Demang Cokrodikromo. Semasa hidupnya, Ki Demang dikenal sangat menghormati setiap tamu yang datang tanpa pandang bulu, dengan menyajikan suguhan khas berupa air minum dalam kendi ijem serta hidangan sekul gudhangan (nasi gudangan) berlauk ketan tholo yang dibungkus daun pisang.
Danang juga menyatakan rasa bangganya atas konsistensi warga Banyuraden yang merawat tradisi ini melalui semangat gotong royong. Terlebih, Kirab Suran Mbah Demang memiliki nilai strategis bagi sektor pariwisata daerah karena telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sejak tahun 2016, serta telah masuk ke dalam kalender event kebudayaan resmi Kabupaten Sleman.
Di tengah arus globalisasi, Danang mengingatkan bahwa budaya lokal harus menjadi fondasi yang kuat agar masyarakat tidak kehilangan jati diri bangsa. Melalui laku budaya seperti Suran Mbah Demang, nilai-nilai luhur, penguatan iman, serta spirit gotong royong diharapkan dapat terus terimplementasi dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.
Acara ini turut dihadiri oleh Panewu Gamping, Lurah Banyuraden, serta jajaran sesepuh dan tokoh masyarakat setempat.
( Pay ).


Social Header
Berita