![]() |
| Foto.layang layang saat mengudara.dok.jikf. |
Kulon Progo, Cakrainvestigasi.com – Rangkaian Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026 resmi dimulai melalui ajang JIKF Golden Ticket Selection yang digelar di Lapangan Tayuban, Pantai Banaran, Kapanewon Galur, Kabupaten Kulon Progo, Sabtu (4/7/2026).
Ajang ini menjadi pintu seleksi bagi para pelayang daerah untuk memperebutkan Golden Ticket menuju kompetisi nasional pada puncak Jogja International Kite Festival 2026 yang akan berlangsung di Pantai Parangkusumo, Kabupaten Bantul, pada 11–12 Juli 2026.
Selain diikuti peserta dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan sejumlah daerah di Indonesia, kegiatan ini juga dimeriahkan kehadiran 35 pelayang internasional dari 17 negara yang turut menerbangkan layang-layang di langit Pantai Banaran.
Ketua Panitia JIKF 2026, Anang Sarjiyanto, mengatakan Golden Ticket Selection merupakan upaya memberikan kesempatan kepada pelayang daerah untuk tampil di kompetisi nasional sekaligus merasakan atmosfer festival bertaraf internasional.
"Melalui Golden Ticket Selection kami ingin memberikan kesempatan kepada pelayang daerah untuk bertanding di tingkat nasional. Harapannya mereka semakin percaya diri, terus berkembang, dan mampu bersaing hingga level internasional," ujar Anang.»
Menurutnya, seleksi tingkat daerah juga menjadi bagian dari pembinaan komunitas layang-layang sekaligus membuka ruang regenerasi pelayang serta memperkenalkan standar kompetisi nasional kepada komunitas lokal.
Pada hari pertama, panitia mempertandingkan dua kategori, yakni layang-layang tradisional dan layang-layang kreasi. Sebanyak 17 karya diterbangkan, terdiri atas 11 peserta kategori tradisional dan enam peserta kategori kreasi.
Kategori tradisional menampilkan berbagai karya khas daerah, seperti Mandala Berwarna, Batik Ing Ngayogya, Kembang Lintang, Owel, Wijaya Kusuma, hingga Punokawan Gank. Sementara kategori kreasi menghadirkan desain inovatif melalui karya Anoman, Drum, Dasamuka 2D, Burung Bido, Wheel Kite, dan Kencana Langit.
Proses penilaian dilakukan dewan juri melalui dua tahapan, yakni pemeriksaan konstruksi layang-layang di darat dan performa saat diterbangkan. Aspek yang dinilai meliputi kualitas rangka, tingkat kesulitan pembuatan, komposisi warna, kestabilan saat terbang, karakter suara, hingga kesesuaian bentuk dengan tema yang diusung peserta.
Pelaksanaan festival juga mendapat dukungan dari berbagai instansi untuk memastikan kegiatan berlangsung aman dan tertib.
PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Transmisi (UPT) Salatiga melalui Team Leader Gardu Induk Wates telah berkoordinasi dengan panitia guna memastikan lokasi penerbangan berada jauh dari jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV. Lokasi festival di Pantai Banaran diketahui berjarak sekitar enam kilometer dari jalur transmisi sehingga dinilai aman untuk aktivitas menerbangkan layang-layang.
Selain itu, PLN memanfaatkan momentum festival untuk mengedukasi masyarakat agar menerbangkan layang-layang di lapangan terbuka yang jauh dari jaringan listrik demi menjaga keselamatan dan mencegah gangguan pasokan listrik.
Dukungan juga diberikan oleh AirNav Indonesia Cabang Yogyakarta yang telah melakukan asesmen ruang udara dan berkoordinasi dengan panitia terkait pelaksanaan festival, mengingat lokasi kegiatan berada tidak jauh dari kawasan operasional Bandara Internasional Yogyakarta (YIA).
Melalui koordinasi tersebut, penyelenggaraan festival dinilai telah memenuhi aspek keselamatan penerbangan. AirNav mengapresiasi komitmen panitia yang aktif berkoordinasi dengan berbagai pihak sehingga kegiatan budaya dapat berjalan selaras dengan keselamatan ruang udara.
Festival ini juga diharapkan memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata, pemberdayaan UMKM lokal, serta meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya keselamatan dalam aktivitas menerbangkan layang-layang.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang perlombaan. Salah satunya Kindar, peserta asal Candimulyo, Magelang, yang mengikuti kategori tradisional dengan layang-layang bertajuk Kembang Lintang.
Ia mengungkapkan, layang-layang tersebut dipersiapkan selama lebih dari 20 hari menggunakan rangka bambu pilihan dengan tingkat kerumitan tinggi pada motif polkadot serta penyetelan khas layangan mancungan Yogyakarta.
"Saya ikut bukan hanya untuk mencari juara, tetapi menambah teman dan pengalaman. Harapannya kegiatan seperti ini terus diadakan agar pelayang semakin percaya diri menunjukkan kreativitasnya. Soal hasil, saya anggap sebagai bonus," katanya.»
Sementara itu, peserta asal Amerika Serikat, Renne Matthew dari Massachusetts, mengaku terkesan dengan penyelenggaraan JIKF dan keramahan masyarakat Indonesia.
"Ini pertama kalinya saya datang ke Indonesia dan saya sangat senang berada di sini. Orang-orangnya sangat ramah, penyelenggara memperlakukan kami dengan sangat baik, dan festival ini berjalan sangat terorganisasi. Saya berharap bisa kembali lagi tahun depan," ujarnya.»
Selain mengikuti festival, para delegasi internasional dijadwalkan mengunjungi sejumlah destinasi budaya dan wisata di Yogyakarta sebagai bagian dari program pertukaran budaya yang menjadi ciri khas Jogja International Kite Festival.
Melalui Golden Ticket Selection, JIKF 2026 tidak hanya menjadi ajang seleksi menuju kompetisi nasional, tetapi juga menjadi wadah pembinaan, pelestarian budaya, edukasi keselamatan, serta mempererat persahabatan antarbangsa melalui seni layang-layang.
Para pemenang seleksi daerah selanjutnya akan tampil pada main event Jogja International Kite Festival 2026 di Pantai Parangkusumo bersama puluhan pelayang dari 17 negara, sekaligus memperkenalkan budaya layang-layang Indonesia kepada dunia.
( Pay )


Social Header
Berita