![]() |
| Foto.Road to JIKF 2026 Kenalkan Bakpia Pathok.dok.jikf. |
YOGYAKARTA ,Cakrainvestigasi.com – Rangkaian Road to Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026 tidak hanya menghadirkan atraksi layang-layang bertaraf internasional, tetapi juga menjadi sarana diplomasi budaya untuk memperkenalkan kekayaan tradisi dan kuliner khas Yogyakarta kepada masyarakat dunia.
Salah satu agenda side event yang digelar pada Selasa (7/7/2026) mengajak puluhan delegasi mancanegara mengunjungi Bakpia Pathok 25 yang berlokasi di Jalan Sanggrahan Patuk NG I/504, Kelurahan Ngampilan, Kota Yogyakarta.
Kegiatan yang diprakarsai Komunitas Angkasa 1 selaku penyelenggara JIKF 2026 di bawah kepemimpinan Anang Sarijiyanto tersebut diikuti peserta dari berbagai negara, di antaranya India, Vietnam, China, Lithuania, Amerika Serikat, Haiti, Brasil, Lebanon, Jerman, Tunisia, Malaysia, dan sejumlah negara lainnya yang akan berpartisipasi dalam JIKF 2026.
Berbeda dengan kunjungan wisata pada umumnya, para delegasi diajak menyaksikan secara langsung proses pembuatan bakpia, mulai dari pencampuran adonan, pengisian berbagai varian rasa, pencetakan, hingga proses pemanggangan di ruang oven.
Tak hanya melihat proses produksi, para peserta juga berkesempatan mencicipi berbagai varian bakpia serta berdialog dengan para pekerja mengenai sejarah, filosofi, hingga perkembangan bakpia sebagai salah satu kuliner khas Yogyakarta yang telah dikenal luas di Indonesia.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penyelenggara menghadirkan pengalaman budaya yang autentik bagi para tamu internasional. Melalui interaksi langsung dengan pelaku UMKM lokal, peserta tidak hanya mengenal cita rasa khas Yogyakarta, tetapi juga memahami nilai sejarah, proses produksi, serta semangat pelestarian budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Perwakilan Bakpia Pathok 25, Amel, yang bertugas sebagai tim media sosial sekaligus bagian keuangan perusahaan, mengatakan pihaknya menyambut baik kolaborasi dalam rangkaian Road to JIKF 2026 karena sejalan dengan upaya memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.
"Kami selalu terbuka untuk kegiatan yang memperkenalkan budaya Yogyakarta kepada dunia. Apalagi sejak tahun 2016 bakpia telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Harapan kami, melalui kunjungan ini bakpia tidak hanya dikenal masyarakat Indonesia, tetapi juga semakin dikenal oleh masyarakat dunia," ujarnya.
Menurut Amel, pengalaman melihat langsung proses produksi memberikan kesan yang jauh lebih mendalam dibandingkan hanya mengenalnya melalui media sosial.
"Peserta sangat antusias. Mereka mengikuti seluruh proses produksi hingga masuk ke ruang oven, merekam setiap tahapan pembuatan, bahkan saat sesi mencicipi beberapa peserta kembali mengambil tester lebih dari satu kali. Pengalaman seperti ini akan menjadi cerita yang mereka bagikan kepada keluarga dan teman-temannya ketika kembali ke negara masing-masing," tambahnya.
Antusiasme juga ditunjukkan para delegasi mancanegara. Salah satunya Kamal Prakash dari India yang mengaku baru pertama kali menyaksikan secara langsung proses pembuatan makanan tradisional Indonesia.
"Ini pengalaman pertama saya melihat bagaimana makanan tradisional Indonesia dibuat. Semua prosesnya sangat bersih, para pekerjanya profesional, dan saya benar-benar menikmati setiap prosesnya. Selama berada di Indonesia saya juga sudah mencoba berbagai makanan lokal dan semuanya sangat lezat," katanya.
Menurut Kamal, rangkaian kegiatan budaya yang disiapkan panitia menjadi nilai tambah yang membedakan Jogja International Kite Festival dengan festival layang-layang internasional lainnya.
"Festival ini bukan hanya tentang menerbangkan layang-layang. Kami juga diajak mengenal budaya, kuliner, masyarakat, dan kehidupan di Yogyakarta. Hal seperti ini membuat pengalaman kami jauh lebih berkesan dibanding hanya datang untuk mengikuti kompetisi," ujarnya.
Apresiasi serupa disampaikan rekannya, Dilshad, yang mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat Indonesia.
"Masyarakat Indonesia sangat ramah. Lingkungannya bersih, tertata, dan semua orang menyambut kami dengan hangat. Tolong pertahankan keramahan dan kebersihan ini karena menjadi salah satu hal terbaik yang kami rasakan selama berada di Indonesia," ungkapnya.
Selain menjadi ajang promosi budaya, kegiatan ini juga membuka ruang bagi pelaku UMKM lokal untuk memperkenalkan produk unggulannya kepada masyarakat internasional. Kehadiran delegasi dari berbagai negara diharapkan mampu memperluas jangkauan promosi UMKM Yogyakarta sekaligus membuka peluang kerja sama dan pemasaran produk lokal di pasar global.
Melalui rangkaian Road to JIKF 2026, penyelenggara berupaya menghadirkan pengalaman yang tidak hanya berfokus pada festival layang-layang, tetapi juga memperkenalkan identitas Yogyakarta sebagai Kota Budaya melalui berbagai aktivitas yang melibatkan masyarakat secara langsung. Mulai dari kunjungan ke sentra kuliner, desa wisata, kegiatan pelestarian lingkungan, hingga pertunjukan seni dan budaya.
Dengan mengusung semangat pertukaran budaya, JIKF 2026 diharapkan tidak hanya menjadi festival layang-layang bertaraf internasional, tetapi juga menjadi media diplomasi budaya yang memperkuat citra Yogyakarta di mata dunia. Kehadiran delegasi dari berbagai negara menjadi bukti bahwa budaya lokal mampu menjadi jembatan persahabatan antarbangsa sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM melalui pengalaman budaya yang autentik.
( Pay/Cakra)


Social Header
Berita