![]() |
| Foto.Komandan Lanal Aru Letkol Laut (P) Erwin Dwi Febrianto.dok. |
Kepulauan Aru, cakrainvestigasi.com - Dalam rangka memperkuat sinergitas antar Industri Jasa Maritim (Injasmar) di Wilayah Kepulauan Aru, Maluku, Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Aru menggelar kegiatan Pembinaan dan kerja sama yang dikemas dalam acara Coffee Morning bersama di Markas Komando (Mako) Lanal Aru, Rabu, (12/08/2026) Pukul 08.00 WIT.
Acara Coffee Morning bertema “Mempererat Silaturahmi, Membangun Sinergi Kemaritiman Menjaga Perairan Aru yang Aman, Tertib dan Sejahtera dihadiri Komandan Lanal Aru Letkol Laut (P) Erwin Dwi Febrianto, Dandenpomal Lanal Aru Kapten Laut (PM) Agus Dwi Purnomo, Kasatbek Lanal Aru Lettu Laut (S) Farulloh, Paur Intel Lanal Aru Lettu Laut (P) Mulyadi, Danunit Intel Lanal Aru Letda Laut (S) I. Ray Baskoro, Pjs. Dansatma Lanal Aru Letda Laut (E) Nasrullah, para insan Injasmar, serta prajurit Bintara dan Tamtama Lanal Aru itu berlangsung dalam suasana penuh keakraban.
Dalam kegiatan tersebut, Komandan Lanal Aru Letkol Laut (P) Erwin Dwi Febrianto menegaskan komitmen TNI AL untuk membangun kemitraan yang lebih erat dengan para pelaku usaha maritim guna menciptakan keamanan, ketertiban, dan kenyamanan aktivitas di laut.
“Harapan kami ke depan koordinasi dan komunikasi antara Lanal Aru dengan rekan-rekan pelaku usaha maritim semakin baik. Apa yang menjadi masukan dan saran akan menjadi bahan perbaikan bersama,” ujarnya.
Salah satu program yang disiapkan Lanal Aru kata Danlanal, adalah pembentukan kapal binaan di bawah naungan Primkopal.
"Program tersebut bertujuan membantu para pemilik kapal dalam aspek administrasi, koordinasi di laut, hingga pendampingan ketika menghadapi berbagai kendala operasional," ucapnya.
Menurut Danlanal, program tersebut diharapkan mampu memberikan rasa aman bagi para nelayan dan pengusaha maritim saat beraktivitas di laut sehingga dapat meningkatkan produktivitas usaha mereka.
“Kami ingin para pelaku usaha maritim bisa bekerja dengan tenang dan nyaman. Jika ada kendala di lapangan, silakan berkoordinasi dengan Lanal Aru. Semua bisa dikomunikasikan,” tegasnya.
Selain itu, Danlanal juga menyoroti penggunaan Automatic Identification System (AIS) yang kini banyak dipasang pada pelampung dan jaring nelayan. Ia meminta agar perangkat AIS yang masih menggunakan identitas atau nama asing segera diperbarui agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam pemantauan lalu lintas laut.
Menurutnya, sejumlah AIS yang termonitor masih menggunakan identitas kapal asing sehingga kerap menimbulkan dugaan adanya kapal luar negeri yang beroperasi di Perairan Aru.
“Kami tidak melarang penggunaan AIS karena sangat membantu nelayan. Namun, tolong dilakukan pengaturan ulang identitasnya agar menggunakan nama yang sesuai dan tidak menimbulkan pertanyaan saat termonitor,” katanya.
Danlanal Aru juga memastikan kegiatan Coffee Morning bersama insan maritim tidak berhenti pada pertemuan kali ini. Kegiatan serupa akan dilaksanakan secara berkala setiap tiga bulan sekali guna menjaga silaturahmi dan memperkuat kemitraan antara Lanal Aru dan masyarakat maritim di Kepulauan Aru.
Sementara itu, Danunit Intel Lanal Aru Letda Laut (S) I. Ray Baskoro menjelaskan bahwa program kapal binaan merupakan bagian dari upaya pembinaan potensi maritim yang dilakukan Lanal Aru selain menjalankan tugas pokok sebagai satuan TNI Angkatan Laut.
Ia mengatakan program tersebut bertujuan membangun kemitraan strategis antara Lanal Aru dan para pelaku usaha maritim sehingga berbagai persoalan yang dihadapi di lapangan dapat diselesaikan melalui komunikasi dan koordinasi yang baik.
“Lanal Aru membuka ruang komunikasi seluas-luasnya. Jika ada kesulitan terkait administrasi, operasional maupun persoalan lain di lapangan, dapat dikomunikasikan dengan kami,” ujarnya.
Baskoro menjelaskan program kapal binaan akan dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yakni pendataan kapal, pembinaan, dan pendampingan.
Pada tahap pendataan, Lanal Aru akan membangun basis data kapal binaan yang akurat. Selanjutnya, para pemilik kapal akan mendapatkan pembinaan terkait hukum maritim, keselamatan pelayaran, serta regulasi perikanan.
Sedangkan pada tahap pendampingan, Lanal Aru akan membantu koordinasi dengan instansi terkait seperti syahbandar, Dinas Perikanan, dan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP).
Melalui program tersebut, Lanal Aru menargetkan terciptanya komunikasi dua arah yang efektif antara aparat dan masyarakat maritim, peningkatan keselamatan awak kapal, kemudahan koordinasi saat terjadi keadaan darurat di laut, serta meningkatnya kepatuhan terhadap regulasi pelayaran dan perikanan.
Dalam sesi diskusi, perwakilan Insan Injasmar turut menyampaikan sejumlah persoalan yang masih dihadapi di lapangan, salah satunya terkait aktivitas kapal trawl yang diduga beroperasi di bawah batas 20 mil laut dan melanggar jalur penangkapan yang telah ditentukan.
Pewarta : Nus Yerusa


Social Header
Berita