![]() |
| Foto.ilustrasi.dok. |
BOLAANG MONGONDOW TIMUR, SULAWESI UTARA ,Cakrainvestigasi.com - Kesuksesan dan jabatan kerap menjadi ujian bagi seseorang. Ketika kepercayaan masyarakat datang, ruang untuk berbuat lebih banyak terbuka lebar. Namun, tidak semua orang berubah setelah berada di posisi yang lebih tinggi.
Rahman Salehe memilih jalan yang berbeda.
Dikenal sebagai sosok yang tumbuh dari kehidupan sederhana, Rahman menjalani perjalanan hidup dengan kerja keras, kejujuran, dan kedekatan dengan masyarakat. Ketika kemudian mendapat kepercayaan untuk duduk sebagai wakil rakyat, tanggung jawabnya bertambah, tetapi prinsip hidupnya tidak berubah.
Baginya, jabatan bukanlah alasan untuk menciptakan jarak dengan masyarakat. Sebaliknya, kedudukan justru menjadi amanah untuk memperluas pengabdian.
“Yang berubah hanya tugas dan amanah yang dipikul, bukan siapa saya sebenarnya. Apa gunanya duduk tinggi jika kakinya tidak lagi menginjak tanah rakyat?” demikian prinsip yang ia pegang.
Sikap tersebut tercermin dalam kesehariannya. Di tengah kemampuan yang semakin besar untuk membantu masyarakat, Rahman tetap tampil sederhana, berkomunikasi dengan bahasa yang mudah diterima, serta berusaha mendengarkan persoalan warga tanpa membedakan latar belakang.
Termasuk ketika ia mampu memberangkatkan puluhan orang ke Tanah Suci. Bagi Rahman, keberhasilan tersebut bukan semata-mata pencapaian pribadi, melainkan bagian dari kesempatan untuk berbagi kebahagiaan dan menghadirkan manfaat bagi orang lain.
“Kemewahan bukan milik saya. Saya hanya penjaga sementara. Kalau hari ini saya diberi lebih banyak, itu supaya saya bisa membagi lebih banyak pula,” ungkapnya.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan sejati tidak selalu diukur dari jabatan, harta, maupun popularitas. Ada nilai yang jauh lebih penting, yakni kemampuan seseorang untuk tetap rendah hati ketika berada di atas dan tetap mengingat masyarakat ketika memiliki kesempatan untuk menentukan arah kehidupan yang lebih baik.
Rahman memahami bahwa jabatan memiliki batas waktu dan kekayaan tidak akan dibawa selamanya. Yang akan dikenang adalah bagaimana seseorang menggunakan kesempatan yang dimilikinya untuk memberikan manfaat.
Karena itu, kesederhanaan bagi Rahman bukan sekadar penampilan. Kesederhanaan adalah cara menjaga diri agar tidak lupa dari mana ia berasal, kepada siapa ia mengabdi, dan untuk apa kepercayaan itu diberikan.
Di tengah perubahan zaman dan tingginya tuntutan terhadap para pemegang amanah publik, sosok seperti Rahman Salehe memberikan pesan sederhana: semakin besar yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab untuk berbagi.
Pada akhirnya, manusia akan kembali ke tempat yang sama. Jabatan akan berakhir, kekuasaan akan berganti, dan harta akan ditinggalkan.
Yang tersisa adalah jejak pengabdian.
Dan bagi Rahman Salehe, tetap sederhana meski telah memiliki banyak hal adalah cara untuk memastikan bahwa keberhasilan tidak pernah membuatnya kehilangan jati diri.
( Afat ).

Social Header
Berita