Berita

Breaking News

Umbul Kidung Puja Mantra di Candi Kedulan, Rawat Warisan Leluhur dan Doakan Masa Depan Bangsa

Foto.suasana sakral saat di candi Kedulan.dok.


SLEMAN,Cakrainvestigasi.com – Plataran Candi Kedulan, Tirtomartani, Kalasan, Sleman, kembali menjadi ruang perjumpaan budaya dan spiritual. Pada Senin malam (10/8/2026), Srawung Paseduluran Anggara Kasih bersama Satuan Team Anti Kriminalitas (STAK) DIY menggelar ritual budaya Umbul Kidung Puja Mantra Candi Kedulan bertema Pamor Wruh Jalma Unggul Kawula Jaya.

Ritual yang dimulai sekitar pukul 18.00 WIB tersebut diikuti ratusan peserta. Suasana khidmat terasa ketika para peserta memasuki kawasan candi dengan membawa bunga sebagai simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus doa bagi keselamatan dan ketenteraman.

Rangkaian acara diawali dengan pemukulan gong sebanyak tujuh kali oleh Ki Gde Mahesa, salah satu inisiator Srawung Paseduluran Anggara Kasih. Dentang gong tersebut menjadi penanda dimulainya prosesi ritual.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan persembahan Tembang Macapat dari Padepokan Tangkil. Mbah Tukimin membawakan tembang yang mengandung pesan agar manusia menyadari kehidupan duniawi yang bersifat sementara dan senantiasa mengingat kehidupan yang lebih hakiki.

Nuansa seni budaya semakin terasa melalui Tari Lenggot Siwi yang dibawakan tujuh penari muda binaan STAK, di bawah asuhan Helga Jayanta dan Destara. Ketujuh penari tersebut yakni Mutiara Maharani Putri, Intan Dwi Lestari, Verly Kejora Anggun Az Zahra, Luna Dwi Astuti, Dewi Suci Indah Murtahari, Vionita Rahmadani, dan Adzra Nabila Nur Ariqah.

Tari tersebut tidak hanya menjadi persembahan bagi para tamu dan penghormatan kepada leluhur pembangunan Candi Kedulan, tetapi juga menjadi doa agar bangsa dan negara senantiasa diberikan keselamatan serta kelancaran dalam menghadapi berbagai tantangan.

Dalam prosesi berikutnya, Ki Hand Wiratirta, Ki Supriyadi Sapta Atmaja, dan Ki Tito Pangesti Aji melakukan ubarampe ritual dengan mencampurkan tirta suci ke dalam tiga guci atau cupu. Ketiga wadah tersebut kemudian diarahkan masuk ke dalam candi utama.

Tirta suci dalam prosesi tersebut dimaknai sebagai lambang penyucian diri, sedangkan pencampuran tanah suci menjadi simbol Kawula, yang dalam pemaknaan ritual dikaitkan dengan Dewi Ngejawantah. Prosesi juga menghadirkan tokoh Togog dan Ismaya (Semar), yang dimaknai sebagai pamong bagi kehidupan manusia.

Kehadiran Arjuna dalam prosesi diharapkan menjadi wadah turunnya wahyu kamulyan untuk menyongsong Ratu Adil, yang dimaknai sebagai harapan terhadap kehidupan yang lebih baik.

Usai prosesi awal, peserta kembali ke area plataran untuk mengikuti sambutan. Sambutan panitia disampaikan Bunda Tete atau Si Rejeki, kemudian dilanjutkan sambutan para tokoh dan Ormas Budaya oleh Sesepuh STAK, Ki Sigit atau Mbah Cemo.

Dalam sambutannya, Ki Sigit menegaskan pentingnya bangsa Indonesia menengok kembali sejarah dan belajar dari para leluhur yang telah membangun Nusantara dengan kegigihan, kelembutan budi pekerti, serta kepedulian terhadap jati diri bangsa.

“Bangsa perlu melihat ke belakang agar bisa meneladani para leluhur yang telah membangun Nusantara dengan kegigihan dan kelembutan budi pekerti, serta perlu kembali kepada jati diri bangsa,” demikian pesan yang disampaikan dalam acara tersebut.

Sementara itu, Ki Gde Mahesa menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan memantik rasa cinta terhadap warisan tradisi budaya dengan menghidupkan kembali upacara ritual sebagai banyu suci, sekaligus menjadi penyeimbang kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menggali dan melestarikan warisan leluhur Candi Kedulan sebagai ruang budaya dan spiritual. Kegiatan tidak dimaksudkan sebagai museum mati, tetapi sebagai media silaturahmi paseduluran antarkomunitas dan kelompok budaya, khususnya yang berada di Yogyakarta maupun berbagai daerah di Indonesia.

“Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi ruang silaturahmi antarpaseduluran sehingga tercipta kedamaian dan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera,” ujarnya.

Ki Hand Wiratirta menambahkan, tema Pam or Wruh Jalma Unggul Kawula Jaya mengandung pesan tentang kesadaran masyarakat sebagai pemilik kekuasaan tertinggi dalam sistem kenegaraan.

Para pemangku kebijakan, lanjutnya, diharapkan menyadari bahwa rakyat merupakan pemilik kekuasaan. Karena itu, pejabat negara seharusnya menjadi pelayan masyarakat, bukan sebaliknya.

“Harapannya melalui Umbul Kidung Puja Mantra ini ada perubahan menuju sistem kenegaraan yang jujur dan adil, serta menuju kesejahteraan masyarakat,” jelasnya saat dikonfirmasi awak media, Kamis ( 13/8)


Rangkaian ritual kemudian dilanjutkan dengan pembacaan mantra, pemukulan gong sebanyak tujuh kali, serta prosesi cucuk lampah. Seorang penari cucuk lampah, Nyai Yuli Mirata, berjalan perlahan mengajak peserta memasuki area percandian.

Prosesi tersebut menggambarkan kelembutan seorang perempuan yang siap menerima sebuah keris pusaka sebagai simbol generasi yang tangguh, ahli dalam berbagai bidang, serta memiliki kesucian dan keluhuran budi.

Tembang pembuka yang dilantunkan Nyai Titik kemudian mengantarkan suasana menuju pembacaan doa dan prosesi utama. Setelah itu, pembacaan Suluk Budhalan oleh Supriyadi Sapta Atmaja mengiringi perjalanan cucuk lampah memasuki kawasan candi hingga berhenti di depan Gapura Candi.

Prosesi diakhiri dengan pembacaan kidung dan doa bersama. Sebagai bentuk cinta terhadap tanah air, seluruh peserta juga menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Melalui Umbul Kidung Puja Mantra, para penyelenggara berharap tradisi dan warisan budaya leluhur tidak berhenti sebagai peninggalan sejarah, tetapi terus dihidupkan sebagai ruang refleksi, persaudaraan, dan doa untuk kehidupan bangsa yang lebih baik.

( Red/pay )

© Copyright 2024 - CAKRAINVESTIGASI.COM