Berita

Breaking News

Densus 88 Bongkar Kerentanan Anak Terpapar Radikalisme, 70 Kepala Sekolah Gunungkidul Diperingatkan

 

Foto.Densus 88 Anti Teror Polri Satgaswil DIY memperkuat upaya pencegahan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, terorisme (IRET) dan paham kekerasan di lingkungan pendidikan.dok.At.


GUNUNGKIDUL,Cakrainvestigasi.com, – Densus 88 Anti Teror Polri Satgaswil DIY memperkuat upaya pencegahan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, terorisme (IRET) dan paham kekerasan di lingkungan pendidikan. Sebanyak 70 kepala sekolah SMA dan SMK se-Kabupaten Gunungkidul mendapat edukasi terkait langkah pencegahan tersebut.

Kegiatan yang bekerja sama dengan Balai Pendidikan Menengah Kabupaten Gunungkidul itu menempatkan sekolah sebagai salah satu garda terdepan dalam membangun ketahanan anak terhadap berbagai pengaruh negatif, termasuk yang berkembang di ruang digital.

Kasatgaswil DIY Densus 88 Anti Teror Polri dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa upaya pencegahan terorisme terus diperkuat. Salah satu indikatornya adalah penurunan angka penangkapan yang antara lain dipengaruhi pembubaran jaringan Jamaah Islamiyah (JI), masifnya sosialisasi pencegahan, serta meningkatnya peran masyarakat.

Meski demikian, kewaspadaan terhadap potensi paparan radikalisme dan paham kekerasan pada anak tetap diperlukan. Dalam pemaparannya, Kasatgaswil menyebut terdapat sekitar 800 anak yang teridentifikasi membutuhkan perhatian dalam konteks paparan radikalisme dan kekerasan.

Ia menjelaskan, kerentanan anak dapat dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya bullying, minimnya perhatian dan kasih sayang orang tua, paparan serta ketertarikan berlebihan terhadap konten radikalisme dan ekstremisme, hingga proses pencarian jati diri pada masa remaja.

“Anak membutuhkan lingkungan yang aman, nyaman dan penuh perhatian. Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, anak dapat lebih mudah mencari ruang lain untuk mendapatkan penerimaan, termasuk melalui lingkungan atau konten yang tidak tepat,” jelasnya.

Karena itu, para kepala sekolah didorong memperkuat komunikasi antara sekolah, keluarga dan anak. Langkah yang dapat dilakukan antara lain membangun komunikasi terbuka, meluangkan waktu bersama, mendampingi penggunaan gadget dan media sosial, serta peka terhadap perubahan perilaku anak.

Menurut Densus 88, pendekatan pencegahan tidak semata-mata berupa pengawasan. Hubungan yang kuat antara orang tua, guru dan anak dinilai penting agar anak memiliki ruang aman untuk bercerita ketika menghadapi persoalan.

Para peserta mengikuti kegiatan dengan antusias dan aktif dalam sesi diskusi. Mereka juga menyatakan komitmen untuk memperkuat peran sekolah dalam mencegah intoleransi, radikalisme, ekstremisme, terorisme serta paham kekerasan terhadap anak.

Melalui edukasi tersebut, Densus 88 berharap sinergi dengan dunia pendidikan semakin kuat sehingga pencegahan dapat dilakukan sejak dini, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah hingga masyarakat.

Pesan yang mengemuka dalam kegiatan tersebut sederhana namun penting: “Jadikan keluarga sebagai tempat yang nyaman bagi anak, sebelum mereka menemukan tempat nyaman yang salah.”

Pesan itu menegaskan bahwa pencegahan harus dilakukan sebelum anak terpapar, dengan membangun keluarga dan lingkungan pendidikan yang hangat, terbuka, peduli, serta mampu menjadi ruang aman bagi tumbuh kembang anak.

( Pay/Cakra)

© Copyright 2024 - CAKRAINVESTIGASI.COM