![]() |
| Foto.pelatihan Barista lereng Merapi.dok |
SLEMAN, Cakrainvestigasi.com,- Upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) petani kopi di lereng Merapi terus dilakukan melalui pelatihan barista. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah kopi lokal sekaligus mendorong kesejahteraan petani dan mendukung perkembangan sektor pariwisata di Kabupaten Sleman.
Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, Rofiq Andriyanto, menyampaikan hal tersebut saat kegiatan pelatihan barista bagi pelaku kopi di kawasan lereng Merapi, Kamis (15/10/2026).
Menurut Rofiq, pelatihan barista merupakan bagian dari upaya pengembangan kopi khas Merapi, khususnya kopi robusta yang memiliki karakteristik tersendiri karena tumbuh di kawasan lereng Merapi bagian selatan.
Program tersebut juga menjadi tindak lanjut dari upaya pengembangan kembali kopi khas Merapi yang sebelumnya mendapat perhatian dari Gubernur DIY. Kopi tersebut dikenal dengan nama Kopi Nirmala Giri.
“Pengembangan kopi Merapi tidak hanya dilakukan dari sisi budidaya atau hulu, tetapi juga dari sisi hilir. Para petani perlu dibekali keterampilan mengolah kopi hingga siap disajikan agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi,” ujar Rofiq.
Ia menjelaskan, kawasan lereng Merapi memiliki fungsi penting sebagai daerah resapan air. Karena itu, pengembangan tanaman kopi diharapkan dapat berjalan beriringan dengan upaya konservasi tanah dan pemulihan tutupan lahan.
Melalui pengembangan kopi lokal, masyarakat diharapkan memiliki alternatif kegiatan ekonomi yang tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.
Selain meningkatkan keterampilan petani dalam mengolah kopi, pelatihan barista juga diharapkan dapat membuka peluang usaha baru, terutama di kawasan wisata yang semakin berkembang di wilayah Sleman bagian utara.
Menurut Rofiq, sektor pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan daya tarik destinasi. Ketersediaan makanan dan minuman khas daerah juga menjadi bagian penting dalam memberikan pengalaman bagi wisatawan.
“Pariwisata tidak akan lengkap apabila hanya menawarkan aktivitas wisata tanpa didukung ketersediaan makanan dan minuman. Kopi lokal bisa menjadi salah satu produk unggulan yang memperkuat daya tarik wisata,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengembangan kopi Merapi perlu dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari peningkatan populasi tanaman, perbaikan budidaya, pengolahan hasil panen, hingga pemasaran produk.
Dengan demikian, pertumbuhan sektor pariwisata diharapkan turut memberikan dampak positif bagi petani dan pelaku usaha kopi lokal.
Libatkan Pelaku Kopi Lokal
Dalam kegiatan tersebut, pelatihan diikuti sekitar 20 peserta yang berasal dari kalangan pelaku kopi di wilayah kawasan lereng Merapi. Pelatihan ini menjadi salah satu bentuk peningkatan kapasitas SDM agar kopi lokal tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk minuman siap saji.
Rofiq berharap, keterampilan yang diperoleh peserta dapat diterapkan dalam pengembangan usaha kopi, baik secara mandiri maupun melalui kerja sama dengan pelaku sektor pariwisata.
Pemasaran kopi lokal juga diharapkan dapat menjangkau berbagai segmen konsumen, termasuk wisatawan yang berkunjung ke destinasi-destinasi di wilayah Sleman.
Dengan penguatan budidaya, pengolahan, dan pemasaran, kopi khas Merapi diharapkan semakin dikenal masyarakat luas. Lebih dari itu, pengembangannya diharapkan mampu menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan lereng Merapi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
( Pay/Cakra )

Social Header
Berita