![]() |
| Foto.kreatifitas pemuda perbukitan menoreh.dok.kmf. |
KULON PROGO ,Cakrainvestigasi.com,- Kreativitas pemuda di perbukitan Menoreh kembali mencuri perhatian. Karang Taruna Hipenari Kalurahan Ngargosari, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, berhasil masuk lima besar Karang Taruna Berprestasi Tingkat Nasional 2026 berkat inovasi mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi.
Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah pemanfaatan limbah daun teh dari perkebunan Ngargosari yang diolah menjadi lulur kecantikan. Selain itu, Karang Taruna Hipenari juga mengembangkan berbagai produk pangan dan usaha berbasis potensi lokal.
Capaian tersebut mendapat apresiasi dalam verifikasi lapangan Tim Penilai Karang Taruna Berprestasi Tingkat Nasional 2026 yang digelar di Rajendra Farm, Ngargosari, Samigaluh, Minggu (4/10/2026).
Sekretaris Daerah Kabupaten Kulon Progo, Triyono, S.IP., M.Si., menyampaikan apresiasi atas prestasi Karang Taruna Hipenari. Ia berharap capaian masuk lima besar tidak menjadi titik akhir, tetapi menjadi pijakan untuk meraih predikat terbaik di tingkat nasional.
“Saya kira prestasi dari Karang Taruna Hipenari ini tidak tiba-tiba muncul. Ini merupakan proses panjang, keterpaduan, kebersamaan, serta organisasi yang dibangun dengan kolaborasi luar biasa,” ujar Triyono.
Menurutnya, keberhasilan Hipenari tidak terlepas dari kemampuannya membangun kemitraan dengan berbagai pihak, mulai dari lembaga di Kapanewon Samigaluh, Pemerintah Kalurahan Ngargosari hingga pelaku usaha seperti Rajendra Farm.
Limbah Teh Disulap Jadi Produk Bernilai Ekonomi
Triyono menilai salah satu kekuatan Karang Taruna Hipenari terletak pada kemampuannya melihat potensi yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Salah satunya adalah limbah daun teh dari perkebunan Ngargosari yang diolah menjadi bahan lulur kecantikan.
“Karang Taruna Hipenari ini mengolah limbah daun teh yang ada di perkebunan Ngargosari menjadi produk bernilai guna dan bernilai ekonomi. Limbah teh ini ternyata bisa digunakan untuk lulur,” jelasnya.
Selain lulur berbahan limbah daun teh, Hipenari mengembangkan sejumlah produk lain, di antaranya jamu tradisional, tempe, hingga enting-enting khas Samigaluh.
Berbagai inovasi tersebut dinilai menunjukkan bahwa pemuda desa memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekonomi berbasis sumber daya lokal sekaligus menjadi penggerak pemberdayaan masyarakat.
Masuk 5 Besar Bukan Sekadar Kompetisi
Ketua Bidang Kaderisasi dan Keanggotaan Pengurus Nasional Karang Taruna (PNKT) sekaligus perwakilan Dewan Juri Penilai Nasional, Agus Maimun, S.E., M.H.P., mengatakan verifikasi lapangan tidak semata-mata dilakukan untuk menentukan pemenang kompetisi.
Menurutnya, proses tersebut juga bertujuan menginventarisasi, mengidentifikasi, dan memetakan praktik baik (best practice) yang dilakukan Karang Taruna berprestasi agar dapat direplikasi di daerah lain.
“Kehadiran kami ini sekaligus menginventarisasi dan mengidentifikasi apa yang dilakukan Karang Taruna berprestasi tingkat nasional. Ini harus menjadi role model, menjadi percontohan untuk bisa direplikasi ke seluruh warga Karang Taruna se-Indonesia,” tegas Agus.
Agus menekankan pentingnya sinergi lintas sektor, baik pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi maupun kementerian, untuk mendorong pemberdayaan masyarakat usia produktif agar mampu meningkatkan kapasitas dan kemandirian ekonomi.
Ia juga mengingatkan agar keberhasilan Hipenari tidak berhenti pada program atau momentum perlombaan semata.
“Kami tidak ingin, apalagi yang masuk lima besar ini berhenti sampai di program. Kami lebih menekankan pada gerakan yang mensyaratkan keberlanjutan dan keberlangsungan. Inilah kemudian praktik baik yang bisa memberdayakan,” ujarnya.
Diharapkan Jadi Inspirasi Karang Taruna
Verifikasi lapangan Karang Taruna Berprestasi Tingkat Nasional 2026 di Ngargosari diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat pengembangan program Hipenari sekaligus memperluas dampaknya bagi masyarakat.
Masukan dari tim penilai diharapkan dapat menjadi dorongan bagi Karang Taruna Hipenari untuk meningkatkan skala kegiatan dan mengembangkan inovasi berbasis potensi lokal.
Keberhasilan Hipenari masuk lima besar nasional juga diharapkan mampu menginspirasi Karang Taruna lainnya di Kabupaten Kulon Progo untuk membangun kemandirian masyarakat melalui kreativitas, kolaborasi, dan pemanfaatan potensi desa.
Dengan mengubah limbah menjadi produk bernilai ekonomi, Karang Taruna Hipenari menunjukkan bahwa potensi lokal perbukitan Menoreh dapat menjadi kekuatan ekonomi sekaligus ruang pemberdayaan generasi muda.
( Pay/Cakra).

Social Header
Berita