Berita

Breaking News

Spektakuler! 7500 Obor Bakal Terangi Hari Jadi Kulon Progo,Terinspirasi Api di Bukit Menoreh

Foto. Kepala Dinas Kebudayaan  Kulon Progo Saat melatih penari.dok.


KULON PROGO,Cakrainvestigasi.com,-  Peringatan Hari Jadi Kabupaten Kulon Progo tahun ini akan dikemas berbeda. Mengusung tema *“Satu Jiwa, Satu Rasa, dari Kulon Progo untuk Indonesia”*, perayaan tersebut dirancang berlangsung pada malam hari dengan mengedepankan nilai-nilai budaya, sejarah, dan semangat kebersamaan masyarakat.

Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo menyiapkan konsep pertunjukan budaya bertajuk *“Nyawiji Anjayeng Bawono”*, yang akan melibatkan 25 sinden, 750 penari, 7.500 obor, serta bendera Merah Putih sepanjang 75 meter.

Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Joko Mursito, menjelaskan bahwa penggunaan obor bukan sekadar unsur visual dalam perayaan, melainkan simbol semangat masyarakat untuk menghadapi berbagai tantangan demi kemajuan daerah dan Indonesia.

Menurutnya, gagasan tersebut terinspirasi dari branding Kulon Progo sebagai Menoreh serta cerita rakyat *Api di Bukit Menoreh* karya SH Mintardja. Inspirasi itu dipilih karena memiliki kedekatan dengan identitas dan kekayaan budaya daerah.

“Api ini bukan untuk dimaknai sebagai kebakaran, tetapi sebagai simbol semangat. Api itu sebenarnya sudah ada di dalam dada kita masing-masing. Maknanya adalah membakar semangat untuk menghadapi tantangan dan hambatan demi Kulon Progo yang lebih baik dan Indonesia yang lebih maju,” ujar Joko Mursito.

Ia menegaskan, pengemasan simbol api perlu dilakukan secara tepat agar masyarakat memahami pesan filosofis yang ingin disampaikan. Obor menjadi representasi energi, tekad, dan semangat kolektif, bukan sekadar benda yang menyala.

Angkat Sejarah dan Penyatuan Budaya Kulon Progo

Joko menjelaskan, pertunjukan *Nyawiji Anjayeng Bawono* akan menggambarkan perjalanan sejarah dan kehidupan masyarakat Kulon Progo pada masa lampau, termasuk keberadaan Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman serta dinamika sejarah yang melatarbelakangi penyatuan keduanya.

Melalui pertunjukan tersebut, masyarakat diajak mengenali kembali perjalanan sejarah daerah sebagai bagian dari pembentukan identitas Kulon Progo saat ini.

Dalam rangkaian acara, obor akan menjadi elemen utama yang menyatukan para penari dan peserta. Pihak penyelenggara juga berharap Sri Sultan Hamengku Buwono X berkenan menyalakan obor sebagai bagian dari prosesi. Selanjutnya, obor direncanakan diteruskan kepada Bupati Kulon Progo, perangkat organisasi perangkat daerah (OPD), serta perwakilan kapanewon untuk dibawa dalam rangkaian perayaan malam hari.

Konsep ini sekaligus menegaskan pesan bahwa semangat membangun daerah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat.

Peringatan Hari Jadi Dikemas Malam Hari

Berbeda dari pelaksanaan sebelumnya yang umumnya menggelar upacara pada siang hari, peringatan tahun ini dirancang berlangsung pada malam hari.

Menurut Joko, perubahan waktu tersebut mempertimbangkan kenyamanan peserta yang harus mengikuti rangkaian kegiatan di lapangan terbuka. Selain mengurangi paparan panas, penyelenggara ingin menghadirkan suasana perayaan yang lebih artistik melalui pertunjukan seni dan budaya.

“Biasanya peringatan Hari Jadi dilaksanakan dengan upacara pada siang hari. Tahun ini kami mencoba menggesernya ke malam hari agar lebih nyaman bagi peserta sekaligus memberikan ruang untuk pengemasan acara secara budaya, bukan secara militer,” jelasnya.

Ia menambahkan, pemilihan konsep budaya juga sejalan dengan upaya pemerintah daerah untuk terus memperkuat identitas dan karakter Kulon Progo melalui tradisi, seni, serta sejarah lokal.

Budaya Dilestarikan dengan Kreativitas

Lebih jauh, Joko menekankan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan tradisi yang telah ada. Kebudayaan juga perlu dikembangkan agar semakin menarik, indah, dan relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai aslinya.

Menurutnya, semangat tersebut sejalan dengan upaya menjaga nilai-nilai budaya yang selama ini menjadi pijakan masyarakat Yogyakarta.

“Tradisi dan seni budaya tidak cukup hanya dilestarikan, tetapi juga harus dibuat semakin lestari, lebih indah, menarik, dan mempesona. Nilai-nilai asli tetap kita jaga, tetapi harus ada pengembangan dan sentuhan kreativitas agar kebudayaan terus hidup mengikuti perkembangan zaman,” ungkapnya.

Melalui tema *“Satu Jiwa, Satu Rasa, dari Kulon Progo untuk Indonesia”* dan pertunjukan *Nyawiji Anjayeng Bawono*, peringatan Hari Jadi diharapkan menjadi momentum memperkuat persatuan masyarakat sekaligus memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya Kulon Progo.

Ribuan obor yang akan dinyalakan nantinya diharapkan tidak hanya menghadirkan kemegahan visual, tetapi juga menyampaikan pesan tentang persatuan, keteguhan, dan semangat bersama untuk membawa Kulon Progo menuju masa depan yang lebih baik.

( Pay/ Cakra )

© Copyright 2024 - CAKRAINVESTIGASI.COM